Prof Dr Musa Asyarie
Mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga
Sumeleh itu kata yang sering disalah-artikan seakan-akan menyerah saja, tidak berbuat apa-apa, karena sumeleh untuk berbuat adalah berbuat untuk tetap sumeleh dalam setiap pekerjaan, sumeleh itu kata kerja, bukan kata benda, jadi Apapun hasil yang diperoleh dari pekerjaan dia tetap sumeleh, bukan berarti tidak berbuat apa-apa. Seseorang itu sumeleh dalam pekerjaannya dan sumeleh untuk menerima hasil pekerjaannya dengan sumeleh.
Sumeleh itu kearifan dan orang yang arif yang bisa sumeleh dalam arti yang sebenarnya. Setelah mengalami stroke aku baru mengerti apa artinya sumeleh dan ini bisa dicapai oleh karena fisikku sudah lemah dan melambat. Aku hampir saja gak bisa melakukan pekerjaan apapun dengan sumeleh, apalagi ketika mentalku jatuh. Akan tetapi setelah aku merenung lebih dalam justru sumelerh telah membawaku ke tingkat substansial dalam setiap pekerjaan itu.
Sumeleh itu baru aku mengerti setelah aku terserang stroke dua kali, tidak main-main stroke dua kali. Setelah semuanya dijalani dengan lemah dan lambat. Aku bangkit memberi arti pada sumeleh yang baru pada keteguhan dan kekerasan hati untuk bisa sumeleh, yaitu berbuat ketika melemah tubuhku dan melambat langkah kakiku, terasa lama dan tidak sampai-sampai. Tetapi aku tetap bekerja dengan sumeleh seberapapun yang dapat aku hasilkan dan kuraih.
Sumeleh itu takwa. Siapapun orang yang bertakwa maka Allah akan menjadikan untuknya jalan keluar dan memberikannya rezeki yang tak bisa diduga sebelumnya. Rezeki yang halal, yang baik dan yang berkah. Luar biasa janji Allah itu. Sungguh dahsyat makna sumeleh, dan aku berharap bisa sumeleh dalam setiap langkahku dan dengan sumeleh yang aku jalani itu, maka aku mendapatkan pegalaman yang luar biasa dahsyat baik kuantitas maupun kualitas.
Sumeleh itu akan menjadi sesuatu yang perlu aku biasakan dalam hidup sehari-hariku. Aku berharap sumeleh itu menjadi sikap budayaku sekarang dan yang akan datang. Aku makin lama akan melepaskan keinginan nafsu tubuhku dan pelan-pelan memasuki kegaiban hidup yang sempurna. Aku belum bisa bicara banyak tentang sumeleh dalam pekerjaanku, karena aku sedang memulaiya. Akan tetapi aku sudah mulai merasakannya sedikit-sedikit karena sumeleh lebih memberikan ketenangan hidup.
Dalam stroke ini aku diajarkan memahami kegaiban dengan lebih baik, karena kegaibanlah yang pertama-tama aku pahami dalam stroke ini. Kegaiban yang mengajarku untuk sumeleh dan nerimo tanpa penolakan. Kegaiban kemudian menuntunku untuk mulai belajar lagi berjalan dan aku menemukan semangat baru setelah hangatnya kegaiban itu mengalir di sekujur tubuhku. Aku menyadari bahwa Allah membersamaiku di manapun aku barada dan semua arah mejadi arah Allah, suatu pengalaman yang dahsyat dan menggetarkan hatiku.
(*)
