Oleh: Andi Mulhanan Tombolotutu/Anggota Dewan Etik MN KAHMI
Tujuh puluh sembilan tahun, bukanlah sekadar hitungan usia bagi sebuah organisasi. Tetapi sebuah catatan sejarah yang memuat pergulatan gagasan, pengorbanan kader, dinamika zaman, serta ikhtiar panjang untuk tetap setia pada nilai di tengah perubahan.
Pada usia inilah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) layak direnungi, bukan sekadar dirayakan. Direnungi sebagai jalan nilai, sebagai jaringan perjuangan, dan sebagai ikhtiar kolektif untuk menghadirkan Islam yang hidup dalam denyut bangsa Indonesia.
Ada saat-saat dalam perjalanan hidup ketika seseorang berhenti dari hiruk-pikuk peran, lalu bertanya dengan jujur: siapakah aku, dan kepada siapa aku berpijak? Dalam ruang kontemplasi itulah, seorang manusia menemukan dua identitas yang tak selalu mudah disatukan: sebagai hamba Allah, dan sebagai kader dalam sebuah gerakan sejarah bernama HMI.
Sebagai hamba, pijakannya terang dan tak tergoyahkan. Rujukan mutlak hanyalah Al-Qur’an, Hadis, dan riwayat hidup Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Di sana tidak ada ruang untuk tawar-menawar, tidak pula keraguan (laa raiba fiih).
Kebenaran bersumber dari wahyu, dan kemuliaan hidup diukur dari sejauh mana manusia meneladani akhlak Rasulullah dalam laku keseharian. Identitas ini bersifat transenden — melampaui zaman, struktur, dan kepentingan duniawi.
Namun manusia tidak hidup di ruang hampa. Tetapi hidup dalam masyarakat, berbangsa, dan bernegara. Di sinilah peran kader HMI menemukan maknanya.
Sebagai kader HMI, Al-Qur’an dan Hadis tidak berhenti sebagai teks yang dibaca, tetapi dituntut untuk menjelma menjadi nilai yang bekerja dalam realitas sosial. Kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, dengan Pancasila sebagai filosofi dasarnya, bukanlah sesuatu yang asing dari substansi Al-Qur’an. Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial, semuanya adalah gema nilai-nilai ilahiah yang diterjemahkan ke dalam bahasa kebangsaan.
Maka, menjadi kader HMI, sejatinya adalah upaya menjembatani langit dan bumi: bagaimana nilai wahyu diturunkan dengan cara yang kontekstual, rasional, dan membumi, tanpa kehilangan kesuciannya.
Dalam pemahaman ini, HMI tidak pernah dimaksudkan sebagai aliran baru, apalagi mazhab dalam Islam. Ia bukan sumber kebenaran, melainkan instrumen sejarah. Salah satu jalan (bukan satu-satunya) untuk mengimplementasikan kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari agar lebih realistis, lebih terorganisir, dan lebih berdampak.
HMI ADALAH SILATURAHIM YANG PANJANG
Kekuatan HMI justru terletak pada jejaringnya: jaringan nilai, jaringan manusia, dan jaringan generasi yang saling terhubung oleh kesadaran intelektual dan spiritual.
HMI adalah silaturrahim yang panjang. Yang melintasi strata sosial, profesi, zaman, dan perbedaan pandangan. Di sanalah dakwah menemukan bentuknya yang paling halus: bukan sekadar ceramah, melainkan perubahan pola pikir; bukan hanya slogan, melainkan keteladanan perilaku.
Saya selalu sampaikan kepada adik-adik di HMI, setiap kader, di manapun ia berada, harus menjadi simpul kecil dari jaringan besar nilai Islam yang bekerja dalam senyap.
Karena itu, pengembangan jaringan bukan sekadar strategi organisasi, melainkan kerja peradaban. Ia adalah dakwah tak bertepi—yang bergerak dari satu hati ke hati lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dakwah yang tidak memaksa, tidak merasa paling benar, tetapi terus menyalakan kesadaran.
Pada akhirnya, HMI hanyalah alat. Nilai Islamlah tujuannya. Dan manusia sebagai hamba, tetap kembali pada Allah Subhanahu Wata’ala sebagai muara akhir dari segala ikhtiar.
Yakusa
wallahu a‘lam
